Pernikahan Masal Warga Mualaf Suku Tengger Susui Anak di Sela-Sela Ikrar Ijab Kabul

prediksi hongkong pools

Prediksi Hongkong Pools Tak seperti prosesi akad nikah umumnya yang berlangsung sakral, pernikahan masal yang diikuti 70 pasangan warga suku Tengger kemarin berjalan penuh gelak tawa. Maklum, banyak di antara pasangan suku unik yang tinggal lereng Bromo-Semeru itu yang sudah jadi kakek-nenek. ELITA SITORINI, Lumajang SUASANA di Masjid Nurul Huda di Desa Tempuran, Kecamatan Senduro, sekitar pukul 08.00 kemarin mendadak riuh rendah. Puluhan wanita mengenakan baju dan jilbab putih berhias bunga-bunga merah memadati ruang masjid di sisi kiri. Sedangkan di sisi kanan, puluhan bapak berbaju takwa dan sarung, lengkap dengan peci hitam dan surban putih. Sebelum prosesi dimulai, para bapak dan ibu itu lebih dulu mendapat panduan tentang tata cara akad nikah dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Senduro Nanang Muryanto. Mereka adalah pasangan “calon” suami-istri yang akan mengikuti prosesi akad nikah yang akan dipimpin Nanang yang juga mengikutsertakan 10 penghulu. Sebetulnya, kebanyakan pasangan itu sudah lama menikah. Bahkan, ada yang sudah empat dasawarsa membina rumah tangga. Hanya, saat itu pernikahan mereka tidak dicatatkan di KUA. Baru setelah memilih beragama Islam (mualaf) mereka menikah menurut tata cara Islam. Karena itu, tidak heran bila sebagian di antara mereka yang datang juga mengajak anak cucunya. Banyak calon mempelai wanita yang merona wajahnya saat digoda Nanang. Di hadapan calon mempelai wanita yang kebanyakan sudah memiliki anak itu, Nanang kerap melontarkan guyonan-guyonan segar. ” Bener ta niki calon suami sampeyan (Benar ini calon suami Anda),” katanya sambil menunjuk foto seorang laki-laki, kepada Mujiati, warga Desa Wonocempokoayu, Kecamatan Senduro. Kontan saja Mujiati menolak karena foto yang ditunjuk Nanang bukan calon suaminya. ” Wah, wah, ora gelem diwehi bojone wong liyan (Wah, tidak mau diberi suami orang lain),” kata Nanang. Mendengar celetukan Nanang itu, Mujiati langsung tersipu-sipu. Apalagi, Nanang melanjutkan godaannya saat menanyakan perasaannya menikah kembali. Tak kuasa menahan malu, Mujiati hanya bisa tersenyum malu-malu. Begitu juga dengan Juwit, adik Mujiati, yang hari itu akan mendengar ikrar ijab kabul dari laki-laki pasangannya. Karena kedua orang tua mereka masih baru menjadi mualaf, baik Juwit maupun Mujiati menggunakan wali hakim untuk akad nikah mereka. Meski terlihat mengumbar senyum, Juwit yang akan dinikahkan dengan Purwadi juga merona wajahnya saat Nanang meminta para calon pengantin wanita mengucapkan kalimat syahadat dan permintaan untuk dinikahkan wali hakim. Bahkan, dia sempat tersendat-sendat saat menirukan pernyataan untuk dinikahkan wali hakim yang diucapkan Nanang. Suasana semakin riuh saat Nanang memanggil Karti yang akan dinikahkan dengan Suprapto. Sebab, dia ternyata adik bungsu Mujiati dan Juwit. “Waduh, satu keluarga borongan. Awas keliru, ya suaminya,” canda Nanang disambut gelak tawa pengantin lain. Ketiga wanita itu menutupi rasa malu mereka dengan terus menundukkan kepala. “Ya, malu saja. Soalnya sudah tua, anaknya sudah banyak,” kata Mujiati saat menunggu prosesi pembacaan akad nikah. Mujiati mengaku sudah 20 tahun menikah dengan Sukoco. Hanya, dia menikah tidak dengan tata cara Islam. “Waktu itu saya menikah dipimpin dukun,” katanya. Di kalangan warga suku Tengger, pernikahan sudah dianggap sah ketika sudah diresmikan oleh seorang dukun adat. Namun, setelah memutuskan menjadi mualaf, Mujiati dan Sukoco ingin pernikahan mereka diulang agar sesuai tata cara Islam. “Pastinya senang karena sudah diajak nikah masal. Soalnya, dulu tidak ada suratnya (surat nikah),” kata ibu seorang anak berumur 13 tahun itu. Begitu juga pasangan Sahut dan Kasiyani, warga Desa Cempokoayu lain yang juga mengikuti nikah masal. Meski pasangan suami-istri ini sudah 40 tahun “menikah”, mereka tetap diperlakukan seperti layaknya pengantin baru. Usai akad nikah, keduanya juga diminta oleh sanak-saudara yang hadir untuk berfoto bersama. Di depan kamera kedua mempelai tampak malu-malu menuruti permintaan itu. Wajah Sahut dan Kasiyani bahkan tampak tegang. Namun, ibu-ibu undangan terus menyemangati Sahut agar mencium pipi istrinya. “Cium, cium pipinya, biar bagus kalau difoto,” teriak seorang ibu. Mendengar teriakan itu, Kasiyani menundukkan kepala. Sahut yang berada di sebelah istrinya akhirnya tidak tahan menjadi bulan-bulanan undangan, “Sudah, sudah cukup. Saya ini sudah tua, malu,” katanya sambil menghindari fotografer sembari tersenyum. Seperti Mujiati dan Sukoco, Sahut dulu juga menikah dengan aturan dan tata cara suku Tengger. Dia ingin mengulang pernikahan mereka agar hubungan mereka sebagai suami-istri sah secara agama. Meski pernikahan mereka hanya “siaran ulang”, calon mempelai wanita terkesan lebih sibuk dibanding perawan yang akan menikah. Sebab, rata-rata mereka tidak hanya mempersiapkan diri sendiri, seperti dirias layaknya calon pengantin baru, tapi masih harus direpotkan oleh anak. Seperti yang dialami Yuliati. Meski tampak cantik dengan busana muslim, di sela-sela prosesi dia masih sibuk menyusui anak kedua, Revan, yang baru berusia dua bulan. “Senang sih senang ikut nikah masal. Ya, biar halal,” kata Yuliati sambil menyusui Revan. Dengan kondisi masih direpoti momongan bayi, perempuan yang memperbarui nikahnya dengan Haryono itu belum memikirkan bulan madu. “Bulan madu itu seperti makan nasi. Wis mbelenger (sudah kenyang). Sekarang nggak perlu bulan madu. Sudah tua,” kata Kumini, mempelai wanita yang lain. Dia sudah delapan tahun menikah dengan Mulyadi dan dikaruniai seorang anak berusia tujuh tahun. Setelah salat duhur, acara prosesi akad nikah yang diadakan BMH (Baitul Mal Hidayatullah) di Masjid Nurul Huda itu dilanjutkan dengan arak-arakan. Sambil membawa mahar berupa seperangkat alat salat, 70 pasangan pengantin “baru meski lama” itu berjalan beriringan menuju Pasar Agropolitan, pusat keramaian di Senduro. (sup) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN